Kamus Gaul

Posted in Catatan kaki Jaran Prabu on 5 Juni 2015 by Jaran Prabu

Nomer dan kode dibawah mungkin kurang familiar buat manusia Indonesia yang lahir setelah era 90-an. Berbeda dengan manusia Indonesia yang lahir sebelum era tersebut. Postingan ini hanya sekedar lucu-lucuan untuk mengenang dan pengingat sejarah, bukan untuk membangkitkan memory kelam dibalik angka-angka ini. Karena biar bagaimanapun, nomor-nomor dibawah pernah booming di Indonesia pada masanya.. hahaha…. :

  • 1      ikan bandeng
  • 2      keong mas
  • 3      mayat, jenazah
  • 4      burung merak
  • 5      kereta api
  • 6      kelinci
  • 7      babi
  • 8      pencuri, maling
  • 9      sapi
  • 10    kelapa
  • 11    ketiak
  • 12    kuda
  • 13    gajah
  • 14    makan makan, traktiran
  • 15    tikus
  • 16    lebah
  • 17    burung kuntul, bangau
  • 18    kucing
  • 19    PSK ber kelas
  • 20    ban pecah, meletus
  • 21    PSK biasa
  • 22    gantrung, capung
  • 23    monyet
  • 24    katak
  • 25    kondom, jagung
  • 26    naga
  • 27    wanita cantik
  • 28    ayam
  • 29    kupu kupu
  • 30    ikan mas, WC umum
  • 31    kelamin, udang
  • 32    ular
  • 33    pengemis
  • 34    orang buta
  • 35    kambing
  • 36    sepeda
  • 37    orang bungkuk
  • 38    sepeda motor
  • 39    scorpio, kalajengking
  • 40    gelatik, penolong
  • 41    kepiting
  • 42    buaya
  • 43    janda
  • 44    anak nakal/berandal
  • 45    perjuangan
  • 46    orang utan
  • 47    orang banci
  • 48    catur
  • 49    kelelawar
  • 50    pria
  • 51    tebu
  • 52    dompet
  • 53    rambutan
  • 54    lele
  • 55    kanguru
  • 56    orang jelek
  • 57    layang layang
  • 58    rumah
  • 59    pakaian
  • 60    polisi
  • 61    kecoak
  • 62    belalang
  • 63    bantal
  • 64    guling
  • 65    raja setan
  • 66    gelas
  • 67    korek api
  • 68    burung hantu
  • 69    gunung
  • 70    ketela pohon
  • 71    sumur
  • 72    jam tangan
  • 73    semut
  • 74    radio
  • 75    suami istri, bebek
  • 76    nyamuk
  • 77    payung
  • 78    becak
  • 79    kompor
  • 80    pak lurah
  • 81    penipu
  • 82    hidung
  • 83    dadu
  • 84    kacang
  • 85    jangkrik
  • 86    rokok
  • 87    orang gila
  • 88    domba
  • 89    pemabuk
  • 90    sawah
  • 91    bambu
  • 92    sarung
  • 93    perahu
  • 94    jambu
  • 95    perkutut, kunci
  • 96    buah mangga
  • 97    sungai
  • 98    kecelakaan
  • 99    bayi
  • 00  tanggalan, bulan
Iklan

Sejarah Orang Melayu

Posted in Alam Raya, Indonesia on 28 Januari 2015 by Jaran Prabu

Menurut prasejarah, pulau Sumba telah didatangi dan dihuni oleh beberapa golongan sebagai berikut: Golongan I: Tau Paita (penduduk Melayu Purba). Ungkapan Tau Paita (Tau: orang, Paita: pahit; MbR: kata Paita berasal dari Majapahit) berarti pendatang pertama ketika belum ada penghuninya (Paita). Golongan ini badannya tinggi , berambut keriting, dan sadis. Juga ada semacam manusia yang terdiri dari dua jenis: Golongan II, badan besar, tegak berjalan, berbulu, rambut keriting. Sedangkan wanitanya besar dan susunya panjang, disebut juga golongan manusia Milimungga (dialek Mangili). Minimongga berarti orang hutan raksasa (bahasa Latin). Golongan III, berbadan besar dan berbulu baik pria maupun wanita, berjalan bungkuk dengan kedua tangan dan kaki merangkak (pangga bei), julukannya: Meu Rumba (kucing hutan raksasa).

Menurut keyakinan suku bangsa Sumba yang kemudian bahwa Golongan I lebih cerdas dan turunannya Humba Meha bersaudara dengan Hawu Meha (Pulau Sabu).

Dalam ungkapan kebaktian yang diucapkan pada jam 03.00 malam terungkap dalam bahasa Sumba klasik tentang Tau Paita (Melayu Purba) tiap kepulauan Indonesia.

Golongan Tau Paita pada tiap pulau dengan namanya sbb:

  1. 0Pulau Andalas oleh Kapu Ndala suku Humbas-Mandailing
  2. Pulau Jawa oleh Umbu Jawa Meha suku Jawa
  3. Pulau Bali oleh Umbu Mbali suku Bali
  4. Pulau Lombok oleh Umbu Ruhuku suku Sasak
  5. Pulau Bima oleh Umbu Ndima suku Bima
  6. Pulau Sulawesi oleh Umbu Makaharu suku Makassar
  7. Pulau Flores oleh Umbu Kawau suku Kawau
  8. Pulau Ternate oleh Umbu Taranati suku Ternate
  9. Pulau Ambon oleh Umbu Am-Bo-niti suku Ambon
  10. Pulau Irian oleh Umbu Panggora suku Panggora
  11. Pulau Timor oleh Umbu Nggodu Timiru suku Timor
  12. Pulau Rote oleh Umbu Roti suku Rote
  13. Pulau Hawu oleh Umbu Hawu Meha suku Hawu
  14. Pulau Sumba oleh Umbu Humba Meha (bersaudara dengan Umbu Hawu Meha) suku Sumba

Itulah sebabnya perasaan persaudaraan antara kabihu Humba dengan kabihu Hawu erat sekali. Mereka sudah cerdas dalam bertani, peralatannya sangat sederhana yaitu kapak batu tak bertangkai (kataka ndaningu bubungu), tajak dari tulang rebis binatang berkaki empat (pariku rii karaha banda), pisau dari belahan bambu (kahidi kawita au), dan betel batu hitam (watu tundungu) untuk membelah kayu besar, memecahkan dan melubangkan batu.

Menurut sejarah, golongan I Tau Paita dihabisi oleh golongan II dan golongan III (Milimungga dan Meu Rumba).

Sebagai kenangan Pulau Sumba disebut Tana Humba, karena itu tidak ada suku atau kabihu Humba, hanya ada sebutan suku atau kabihu Matolangu Tau Humba (MbR: disebut suku atau marga atau kabihu Matolangu Tau Humba untuk membedakan dengan marga atau kabihu Matolangu Tau Hawu yang berada di Sabu, maka disebut Udu Do Matola. Selain itu ada juga Udu Do Melagu. Menurut Pdt. S.H. Dara (pendeta GKS Waingapu), dahulu ada orang Sabu yang terdampar di pantai selatan Pulau Sumba. Setelah lama di tempat itu kemudian melamar dan menikah dengan seorang gadis Sumba. Karena tidak dapat membayar belis maka ia dituntut harus menetap di Sumba. Ia memohon dengan sangat agar dikasihani (pamilangu eti). Ia bersedia mentaati tuntutan keluarga pihak wanita tetapi nama kabihunya tetap dipertahankan dan pihak wanita menyetujuinya. Oleh sebab itu, ada kabihu Malanggu (dialek Sumba) di Malanggu Tabundungu. Tetapi ada juga Udu Do Melagu yang dari Sabu antara lain Bapak Piter Dao Riwu alias Ama Isak di Kandara Payeti (Waingapu).

Makanan golongan II dan III, Milimungga dan Meurumba, berupa siput hutan, ulat kepompong kayu (kawatu), jamur kayu (kahauki), dan buah-buahan di hutan rimba. Tempat diam mereka adalah goa-goa atau bongkahan batu diatas tebing batu di hutan rimba raya, kadang-kadang saja manusia biasa melihatnya sebab mereka tentu cepat merasa ada orang. MbR: menurut cerita Mb. Moekoe mereka lahir tahun 1901 dan menurut Bapak Raja Tamu Umbu Nggaba Hungu Rihi Eti di Prai Liu pada tahun 1903. Sekitar tahun 1901 ada seorang gadis tumbuh payudara (tumbu huhu) kena terjerat ujung jarinya dengan jerat terbuat dari kalita (daun gewang yang telah dibuang kulit luarnya) dan terjadilah tali semacam tali rafia. Tali kalita dipintal menjadi lamuditu (tali pintalan halus) dijadikan jerat dan dipasang di mulut lubang jagung di ladang huma dekat rimba raya di Kadumbulu untuk menjerat ayam hutan. Gadis liar itu tidak dapat membuka jerat kalita itu dari jarinya. Untuk melepaskan diri ia terus gigit tangannya sendiri. Ia ditangkap pemilik huma kemudian dipasung. Ketika diberi sarung, ia merabiknya dengan gigi dan mengunyahnya. Nasi yang diberi tidak dimakannya, hanya dijatuhkan jagung mentah di bawah kolong tempat ia dipasung. Lama kelamaan ia menjadi jinak dan sama dengan manusia biasa. Ia diberi nama Kalita agar menjadi peringatan bahwa ia kena jerat kalita. Perawakannya besar dan lebih kuat dari wanita. Kalau junjung kayu api, kayu yang dijunjungnya dua kali berat atau dua kali banyak kayu api orang lain. Ia rajin dan kuat menyiang di kebun atau ladang atau huma milik keluarga tempat ia dipelihara. Kalau pawndangu panen jagung, maka ia menancap kayu perbatasan jagung yang ia siang. Dalam aturan pawndangu (bergotong royong saling mengundangu) yang turut pawndangu itu boleh mengambil bagiannya. Di Kambera, orang yang turut pawndangu panen jagung boleh mengambil jagung pilihan yaitu jagung yang bulirnya besar-besar sehingga disebut waturu paleha (jagung pilihan). Sedangkan di Lewa, jagung yang boleh diambil menjadi hadiah bagi yang panen jagung yaitu jagung berukuran kecil yang disebut karunggu wataru. Mungkin peraturan demikian disepakati. Di Kambera daerah panas curah hujan tak cukup dan ladang kurus hasil jagung lebih banyak yang kecil dan sangat sedikit yang berbulir besar, karena itu jagung pilihan adalah yang berbulir besar. Sebaliknya di Lewa dan Masu, hasil jagungnya lebih banyak yang berbulir besar dan sedikir yang berbulir kecil, sebab itu jagung pilihan ialah yang berbulir kecil.

Atas pertanyaan kepada Kalita yang sudah jinak dan akrab seperti wanita-wanita lainnya, ia katakan bahwa ia sekeluarga berdiam di dalam batang pohon raksasa yang batangnya bolong, kalau mau masuk harus memanjat sebab pintu masuknya tinggi dari permukaan tanah. Mereka sangat takut pada api dan anjing. Selagi saya muda, banyak cerita tentang orang liar. Menurut Bapak Besarnya Guru P.L. Ndamung dan Pdt. M. Yiwa, di Mangili (dekat Waijelu) ia pernah pandapungu orang liar yang menghabiskan jagung yang baru tumbuh atau muncul (mahina pautu). Ama Piti (namanya) menyatakan bahwa ia pasang jerat pelanting (hiru hapndilu) dengan dendeng bakar. Kemudian ia membangun ruang sekat dari dedaunan agak jauh dari jerat hapndilu kembar (batang pelantingnya dari dua batang bambu dengan tali jeratnya masing-masing dan mempunyai pengumpil (kahili-na) masing-masing). Setelah lama menunggu terdengarlah derik kayu kering dari pohon yang ditebas untuk huma dan muncullah seorang pria tinggi besar perawakannya dan bertelanjang bulat, berjanggut panjang, bulu dada tebal, tangan berbulu. Ia mengangkat hidung (hengei) untuk mencium bau dendeng supaya mengetahui dimana bau enak itu berada. Setelah mengetahuinya maka ia langsung menuju jerat pelanting. Ia hendak mengambil dendeng umpan dengan tangan kanan, pelanting terangkat cepat dan menjerat tangan kanannya sehingga terangkat ke atas. Hal tersebut tidak dihiraukannya. Tangan kirinya hendak mengambil dendeng umpan pada bagian kiri, batang pelantingnya (tandai hapndilu) terangkat cepat ke atas dan tangan kirinya terjerat dan ikut terangkat ke atas. Kedua tangannya telah terangkat tegang ke atas namun tak dihiraukannya. Kemudian ia menarik untuk melenturkan batang kedua pelanting itu hendak mengambil dendeng umpan dengan mulutnya. Dengan menekan rasa takut, Ama Pipi berteriak dan muncul dengan tombak dari persembunyiannya. Meti pinangu garangu munyaka, kata Ama Pipi mati sudah engkau disertai kata-kata makian. Dengan sekali lompat, orang liar itu mencabut kedua batang pelanting itu dan lari dengan membawa kedua jerat dan pelantingnya. Saya tidak berani mengejarnya, kata Ama Pipi.

Pada beberapa tempat ada cerita tentang orang liar seperti itu. Diperkirakan bahwa mereka adalah penduduk awal Pulau Sumba yang disebut Tau Paita (orang zaman Majapahit).

Golongan IV adalah suku/marga/kabihu Damaru Taluku yaitu suku-suku yang berasal dari Damar dan Maluku. Dalam buku Kertagama menyebutkan bahwa pulau-pulau di sebelah timur Pulau Jawa umumnya disebut Pulau Damar atau Maluku.

Disamping suku Damaru Taluku, terdapat orang Bugis (Tau Bunggihu), orang Buton (Tau Mbutungu), orang Bajo (Tau Banju Lindingu, artinya orang Bajo yang mengapung) yang hidup di atas sampan atau perahu di laut.

Kita lanjutkan tentang pendaratan oleh suku yang ada sekarang ini yaitu golongan aliran Marapu. Dalam pendaratan, diatur strategi pengepungan Tana Humba sebagai berikut: Kelompok I mendarat di Haharu Malai Kadanggu Lindi Watu, terdiri dari dua rombongan. Rombongan I terdiri dari 8 buah rakit raksasa, 8 x 4 suku/kabihu = 32 kabihu/suku/marga dibawah pimpinan Umbu Walu Mandoku Walu Mandnga, Walu Haharu I Njata I Walu Njongu I Kuhi I Watu, I Karakapu I Kababa (suku/kabihu Kanatangu), Ondangu Ratu Djawa Karanja Rowa Ratu (suku/kabihu Karunggu Watu) dan Hili Baba Hili Ndahi (suku/kabihu Ana Maeri). Kelompok II terdiri dari tujuh buah rakit raksasa. 7 x 4 suku/ksbihu = 28 suku/kabihu besar (karonggu), dibawah pimpinan Anda Mangu Langu Meta Mangu Ndolungu didampingi oleh Mahumbu Mambua, Umbu Rere Ana Lodu Rambu Reri Ana Wulangu, i nyamba i Hawungu i Ratu i Nggai, Pongo i Kawa Nggodu i Laki, i Tla i Nla.

Suku yang pegang Dewa Kilat ialah i Pambalu i Robu i Ndilu i Lauku i Boku i Ma Wmaru. Ungkapan perjalanan Pihu Ndhi Lauru Awa Walu Ndni, artinya mereka berasal dari tujuh lapis laut (bawah) delapan lapis awan. Ini pengertian primitif, yang dimaksud ialah tiap pulau yang mereka lalui dianggap satu lapis langit yaitu daratan Malaka Bangka Jawa Bali Lombok Sumbawa Flores Sumba (delapan lapis). Sedangkan tujuh lapis laut (pihu ndhi lauru) ialah Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Banyuwangi, Selat Bali, Selat Alas, dan Selat Sumba.

Untuk Sumba Timur, Tana Walu Ndawa Awangu Walu Ndni (delapan daratan dan delapan selat) yaitu Mlaka, Sunda, Banyuwangi, Bali, Alas, Sape, Lambata, dan Sumba.

Kelompok II mendarat La Panda Wai La Mananga Bokulu. Terdiri dari 12 buah rakit (12 x 4 kabihu = 48 kabihu/suku/marga) di bawah pimpinan Umbu Meha Nguru Meha Taku, Umbu Wulangu Tarandima Pati Hanggu, Tara Nggaha Mbapa Tungga Pira Maliti. Kelompok III mendarat di Wula Waijilu Hongga Hilimata (muara sungai Wula) tiga buah rakit raksasa (3 x 4 kabihu/suku) di bawah pimpinan i Huki i Dewa (julukan jabatannya i Jangga Ndewa i Talu Ura (…..selaku Kepala Staf Angkatan Perang Menteri Pertahanan) didampingi oleh i Hakelu i Kahewa Mbolu Pati Randa Bara Kadu (kabihu/suku Kaliti), Umbu Ma Humbali Ma Hambalu (kabihu/suku Nipa) dan i Debu Rara i Ratu Umba (kabihu/suku Ana Umb). Kelompok IV mendarat di Mbjiku Padua Kambata Kundurawa terdiri dari enam rakit (6 x 4 kabihu/suku = 24 kabihu/suku) di bawah pimpinan i Nggodu i Nggaura i Ndeta i Laki didampingi oleh i Leli i Ngadu i Tidahu i Kondaru dan Ma Kombu Ma Lapu (kabihu/suku Kombu).

Julukan dari Pantai Selatan karena banyak agas adalah Tidahu Tawui Karambua Pawutu. Julukan untuk seluruh Lewa Tidahu: i Leli i Ngadu i Tidahu i Kuandaru. Karena Umbu Huki i Dewa selaku Menteri Pertahanan melakukan pemeriksaan dan mengatur penyerangan terhadap suku-suku yang sudah berada lebih dahulu. Secara serentak dalam peperangan/pertempuran dilakukan pembunuhan massal terhadap suku/kabihu, bila perlu seluruh isi paraingu. Segala harta kekayaan berupa barang antik (piring porselen warna putih biru buatan Tiongkok masa Dinasti Han), barang dari tembaga, guci buatan purbakala dikuburkan bersama-sama. Dalam keyakinan aliran kepercayaan Marapu, haram untuk mengambil atau memiliki harta jarahan dalam perang terbuka, barangsiapa yang melanggarnya akan mati atau turunan dan paraingunya akan musnah (natumbunya kanduru kandangu). Karena itu terdapat pekuburan kuno berisi guci, piring porselen antik (kawinga ndai) dan logam lainnya di seluruh wilayah Sumba pada umumnya dan Sumba Timur khususnya.

Jumlah kelompok terakhir yang mendiami Tana Humba hingga saat ini adalah 9 jabatan rohani (9 x 4 buah rakit = 36 buah rakit) ditumpang oleh 9 x 4 suku/kabihu = 144 suku/kabihu. Dalam sejarah perkembangan kabihu/suku, ada yang musnah dan ada yang bertambah karena dalam satu suku orang bersaudara membentuk suku baru tersendiri akibat pertentangan gagasan. Menurut penelitian sejak tahun 1949 sampai 1980, di Sumba Timur terdapat sekitar 200 kabihu/suku dan nama Marapu sekitar 150 Marapu karena ada kabihu/suku yang pecah dari suku asalnya tetapi nama leluhurnya tetap diakui dalam suku yang dibentuk baru.

Setelah Sumba Timur dan Sumba Barat dikuasai oleh suku-suku yang baru datang maka pimpinan tertinggi rombongan dari 36 buah rakit masing-masing 36 x 4 (144) suku/kabihu (angka Marapu: 1 + 4 + 4 = 9 jabatan, 1 jabatan Ratu/Imam dan 8 jabatan jasmani atau Marmba Tau Mawalu, Sejabu walu (di Sumatera), hasta brata (Jawa) yaitu delapan sifat luhur seorang pimpinan atau sultan dalam memimpin negara/bangsa; dikutip dari Kertagama) merencanakan suatu Musyawarah Besar Hukum Adat oleh seluruh suku (144 suku) dalam enam tahap. Tahapannya akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

Sumber: D.H. Wohangara dan Pdt. Mb. Ratoebanjoe. SEJARAH PULAU SUMBA, ADAT-KEBUDAYAAN DAN PENDUDUKNYA PATU LATA TURA PARAINGU (CATUR SILA MARGA SUMBA – CATUR SILA PENOPANG NEGERI DI SUMBA). Unpublish

sumber catatan : anahumba
sumber foto : fb George Fernandez Liarian

Syair Doa Abu Nawas – Al I’tiraf (Sebuah Pengakuan)

Posted in Catatan kaki Jaran Prabu on 28 Januari 2015 by Jaran Prabu

Kumpulan Biografi Ulama

Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.

Lihat pos aslinya 228 kata lagi

Memahami Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

Posted in Jendela Dunia, Kebijakan Publik on 6 Agustus 2014 by Jaran Prabu

Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) yang sering disebut plat nomor atau nomor polisi adalah plat aluminium tanda kendaraan bermotor di Indonesia yang telah didaftarkan pada Kantor Bersama Samsat.

Penggunaan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, merupakan warisan sejak zaman Hindia Belanda, yang menggunakan kode wilayah berdasarkan pembagian wilayah karesidenan.

 

Spesifikasi Teknis

Tanda Nomor Kendaraan Bermotor berbentuk plat aluminium dengan cetakan tulisan dua baris. Tulisan tersebut menjelaskan tiga komponen hal, yaitu :

1. Kode wilayah pendaftaran

Dituliskan pada awal baris pertama, berupa satu buah huruf.

2. Nomor pendaftaran kendaraan bermotor

Berupa 1 – 4 digit angka yang merupakan nomor polisi dan 2 buah huruf yang merupakan kode/seri akhir wilayah. Dituliskan pada baris pertama setelah kode wilayah pendaftaran.

3. Masa berlaku

Dituliskan pada baris kedua, berupa angka yang menunjukkan bulan dan tahun masa berlaku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

TNKB terbuat dari bahan baku aluminium dengan ketebalan 1 mm. Untuk kendaraan bermotor roda 2 dan roda 3, ukuran TNKB adalah 250×105 mm, sedangkan untuk kendaraan bermotor roda 4 atau lebih adalah 395×135 mm.

Terdapat cetakan garis lurus pembatas dengan lebar 5 mm di antara ruang nomor polisi dan ruang angka masa berlaku.

Pada sudut kanan atas dan sudut kiri bawah terdapat tanda khusus (security mark) cetakan lambang Polisi Lalu Lintas. Sedangkan pada sisi sebelah kanan dan sisi sebelah kiri terdapat tanda khusus cetakan “DITLANTAS POLRI” (Direktorat Lalu Lintas Kepolisian RI) yang merupakan hak paten pembuatan TNKB oleh Polri dan TNI.

 

Spesifikasi Teknis Baru

Korps Lantas Mabes Polri terhitung mulai April 2011 mengganti desain Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Pada TNKB versi baru ini ada penambahan huruf dibelakang nomor polisi, yang awalnya dua huruf menjadi tiga huruf. Ukuran TNKB baru lebih panjang 5 centimeter dibandingkan TNKB sebelumnya.

Selain itu, TNKB baru memiliki lis putih di sekeliling plat. Antara nomor TNKB dengan masa berlaku TNKB (atau antara baris pertama dengan baris kedua), tidak diberi pembatas lis putih. Namun seperti TNKB lama, di plat ada dua baris yakni baris pertama yang menunjukkan kode wilayah kendaraan, nomor polisi dan kode seri akhir wilayah. Baris kedua menunjukkan masa berlaku plat nomor.

Ukuran TNKB baru untuk kendaraan roda 2 dan 3 adalah 275 mm dengan lebar 110 mm, sedangkan untuk kendaraan roda 4 atau lebih adalah panjang 430 mm dengan lebar 135 mm. Sementara ini, plat resmi yang lama masih berlaku.

 

Warna Plat

Penetapan warna Tanda Nomor Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut:

  • Kendaraan bermotor bukan umum dan kendaraan bermotor sewa berwarna dasar hitam dengan tulisan berwarna putih
  • Kendaraan bermotor umum berwarna dasar kuning dengan tulisan berwarna hitam
  • Kendaraan bermotor milik pemerintah berwarna dasar merah dengan tulisan berwarna putih
  • Kendaraan bermotor korps diplomatik negara asing berwarna dasar putih dengan tulisan berwarna hitam
  • Kendaraan bermotor staf operasional korps diplomatik negara asing berwarna dasar hitam dengan tulisan berwarna putih dan terdiri dari lima angka dan kode angka negara dicetak lebih kecil dengan format sub-bagian
  • Kendaraan bermotor untuk transportasi dealer (pengiriman dari perakitan ke dealer, atau dealer ke dealer) berwarna dasar putih dengan tulisan berwarna merah.

 

Kode Wilayah

Menurut peraturan Kapolri Nomor Polisi 5 Tahun 2012, kode wilayah pendaftaran kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya Jawa Barat ditetapkan sebagai berikut :

  • D = eks Karesidenan Bandung: Kabupaten Bandung (D – V**/Y**/Z**), Kota Bandung (D – A**/B**/C**/D**/E**/F**/G**/H**/I**/J**/K**/L**/M**/N**/O**/P**/R**), Kota Cimahi (D – S**/T**), Kabupaten Bandung Barat (D -U**/W**/X**)
  • E = eks Karesidenan Cirebon: Kabupaten Cirebon (E – H*/I*/J*/K*/L*/M*/N*/O*), Kota Cirebon (E – A*/B*/C*/D*/E*/F*/G*), Kabupaten Indramayu (E – P*/R*/S*/T*), Kabupaten Majalengka (E – U*/V*/W*/X*), Kabupaten Kuningan (E – Y*/Z*)
  • F = eks Karesidenan Bogor: Kabupaten/Kota Bogor (F- A*/B*/C*/D*/F*/G*/H*/I*/J*/K*/L* /M*/N*/O*/P*/R*), Kabupaten Cianjur (F -W*/X*/Y*), Kabupaten Sukabumi (F -U*/Q*/V*), Kota Sukabumi (F – S*/T*)
  • T = eks Karesidenan Purwakarta: Kabupaten Purwakarta (T – A*/B*/C), Kabupaten Karawang (T- H*/I*/J*/K*/L*/M*/N*/O*/ P*/ R*/S*), sebagian Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang (T – T*/U*/V*/W*/X*/ Y*/Z*)
  • Z = eks Karesidenan Parhyangan: Kabupaten Garut (Z – D*/E*/F*), Kabupaten/Kota Tasikmalaya (Z – H*/I*/J*/K*/L*/ M*/N*/ O* /P*/R*/S*), Kabupaten Sumedang (Z – A*/B*/C*), Kabupaten Ciamis (Z – T*/U*/V*/W*), Kota Banjar (Z – Y*).

 

Nomor Polisi

Pemberian nomor polisi disesuaikan dengan urutan pendaftaran kendaraan bermotor. Nomor urut tersebut terdiri dari 1-4 digit angka, dan diletakkan setelah Kode Wilayah Pendaftaran. Untuk wilayah DKI Jakarta, nomor urut pendaftaran dialokasikan sesuai kelompok jenis kendaraan bermotor.

  1. 1 – 2999, 8000 – 8999 dialokasikan untuk kendaraan penumpang.
  2. 3000 – 6999, dialokasikan untuk sepeda motor.
  • Mulai Februari 2010 nomor kendaraan untuk Jakarta Timur (berkode T) telah habis untuk nomor 6, sehingga dimulai dengan angka 3.
  • Mulai awal 2011 nomor kendaraan untuk Jakarta Selatan (berkode S) telah habis untuk nomor 6, sehingga dimulai dengan angka 3.
  • Mulai November 2012 nomor kendaraan untuk Jakarta Utara (berkode U) telah habis untuk nomor 6, sehingga dimulai dengan angka 3.
  1. 7000 – 7999, dialokasikan untuk bus.
  2. 9000 – 9999, dialokasikan untuk kendaraan beban.

Apabila nomor urut pendaftaran yang telah dialokasikan habis digunakan, maka nomor urut pendaftaran berikutnya kembali ke nomor awal yang telah dialokasikan dengan diberi tanda pengenal huruf seri A – Z di belakang angka pendaftaran. Apabila huruf di belakang angka sebagai tanda pengenal kelipatan telah sampai pada huruf Z, maka penomoran dapat menggunakan 2 huruf seri di belakang angka pendaftaran.

 

Kode/Seri Akhir Wilayah

Khusus untuk Jabodetabek kecuali Bogor, Bandung, Medan/Sumatera Utara bagian Timur, Semarang, Surakarta, Malang , Kalimantan Selatan, dan Kediri, dapat menggunakan hingga 3 huruf seri di belakang angka pendaftaran, sesuai kategori atau dengan permintaan khusus.

Keterangan nomor polisi pada TNKB adalah sebagai berikut : Misalkan kendaraan bermotor dengan nomor polisi XY.

X = umumnya mewakili tempat kendaraan tersebut terdaftar.

Contoh :  A = Kabupaten Tangerang

N = Tangerang

C = Tangerang

K = Kota Bekasi

F = Bekasi

Z = Kota Depok (Cinere, Limo, Sawangan)

E = Depok

U = Jakarta Utara

B = Jakarta Barat

P = Jakarta Pusat

S = Jakarta Selatan

T = Jakarta Timur

Y = umumnya merupakan jenis kendaraan berdasarkan golongan.

Contoh :  A = Sedan / Motor

C = Truk

F = Minibus, Hatchback, City Car

J = Jip dan SUV

T = Taksi,Angkutan Umum

U = Kendaraan Staf Pemerintah

Sedangkan untuk wilayah yang menggunakan 3 huruf seri misalkan XYZ. Z merupakan huruf acak yang diberikan untuk pembeda.

 

Nomor kendaraan juga memiliki kode wilayah

Kode wilayah pendaftaran kendaraan bermotor ditetapkan oleh Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2006.

Sumatera

  • BL = Nanggroe Aceh Darussalam
  • BB = Sumatera Utara bagian Barat (pesisir Barat)
  • BK = Sumatera Utara bagian Timur (pesisir Timur)
  • BA = Sumatera Barat
  • BM = Riau
  • BP = Kepulauan Riau
  • BG = Sumatera Selatan
  • BN = Kepulauan Bangka Belitung
  • BE = Lampung
  • BD = Bengkulu
  • BH = Jambi

Jawa

DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat

  • A = Banten: Kabupaten/Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak, sebagian Kabupaten Tangerang
  • B = DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Tangerang, Kabupaten/Kota Bekasi(B-K**), Kota Depok
  • D = Kabupaten/Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat
  • E = eks Karesidenan Cirebon: Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan (E – YA/YB/YC/YD)
  • F = eks Karesidenan Bogor: Kabupaten/Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten/Kota Sukabumi
  • T = Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang, sebagian Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang
  • Z = Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya (Z – H), Kabupaten Sumedang, Kabupaten Ciamis (Z – T/W), Kota Banjar [1]

Catatan:

  1. Daerah dengan kode wilayah Z sebelumnya memiliki kode wilayah D (eks Karesidenan Parahyangan)
  2. Jombang memiliki kode wilayah S sejak tahun 2005, sebelumnya memiliki kode wilayah W
  3. Daerah dengan kode wilayah W sebelumnya memiliki kode wilayah L (eks Karesidenan Surabaya)

Bali dan Nusa Tenggara

  • DK = Bali
  • DR = NTB I (Pulau Lombok: Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah)
  • EA = NTB II (Pulau Sumbawa: Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten/Kota Bima)
  • DH = NTT I (Pulau Timor: Kabupaten/Kota Kupang, Kabupaten TTU, TTS, Kabupaten Rote Ndao)
  • EB = NTT II (Pulau Flores dan kepulauan: Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor)
  • ED = NTT III (Pulau Sumba: Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Timur)

Kalimantan

  • KB = Kalimantan Barat
  • DA = Kalimantan Selatan
  • KH = Kalimantan Tengah
  • KT = Kalimantan Timur

Sulawesi

  • DB = Sulawesi Utara Daratan (Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Bitung, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan)
  • DL = Sulawesi Utara Kepulauan (Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Kepulauan Sitaro)
  • DM = Gorontalo
  • DN = Sulawesi Tengah
  • DT = Sulawesi Tenggara
  • DD = Sulawesi Selatan
  • DC = Sulawesi Barat

Maluku dan Papua

  • DE = Maluku
  • DG = Maluku Utara
  • DS = Papua dan Papua Barat

Tidak digunakan

  • DF = Timor Timur (telah menjadi negara sendiri)

 

Ada juga lho plat nomor khusus pemerintahan dan diplomatik.

Presiden dan pejabat pemerintahan pusat

Mobil dinas pejabat negara memiliki plat nomor khusus. Jika pada saat pejabat tersebut bertugas ke wilayah di luar ibukota RI atau kunjungan dinas ke luar negeri, maka plat nomor tersebut akan dipasangkan pada mobil yang dinaiki oleh pejabat bersangkutan.

Berikut adalah daftar nomor polisi untuk kenderaan pejabat penting di Indonesia:

  • RI 1: Presiden
  • RI 2: Wakil Presiden
  • RI 3: Istri/suami presiden
  • RI 4: Istri/suami wakil presiden
  • RI 5: Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
  • RI 6: Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
  • RI 7: Ketua Dewan Perwakilan Daerah
  • RI 8: Ketua Mahkamah Agung
  • RI 9: Ketua Mahkamah Konstitusi
  • RI 10: Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
  • RI 11: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan
  • RI 12: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
  • RI 13: Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
  • RI 14: Menteri Sekretaris Negara
  • RI 15: Sekretaris Kabinet
  • RI 16: Menteri Dalam Negeri
  • RI 17: Menteri Luar Negeri
  • RI 18: Menteri Pertahanan
  • RI 19: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
  • RI 20: Menteri Keuangan
  • RI 21: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
  • RI 22: Menteri Perindustrian
  • RI 23: Menteri Perdagangan
  • RI 24: Menteri Pertanian
  • RI 25: Menteri Kehutanan
  • RI 26: Menteri Perhubungan
  • RI 27: Menteri Kelautan dan Perikanan
  • RI 28: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
  • RI 29: Menteri Pekerjaan Umum
  • RI 30: Menteri Kesehatan
  • RI 31: Menteri Pendidikan Nasional
  • RI 32: Menteri Sosial
  • RI 33: Menteri Agama
  • RI 34: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
  • RI 35: Menteri Komunikasi dan Informatika
  • RI 36: Menteri Negara Riset dan Teknologi
  • RI 37: Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
  • RI 38: Menteri Negara Lingkungan Hidup
  • RI 39: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
  • RI 40: Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
  • RI 41: Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
  • RI 42: Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
  • RI 43: Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
  • RI 44: Menteri Negara Perumahan Rakyat
  • RI 45: Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
  • RI 46: Jaksa Agung
  • RI 47: Panglima Tentara Nasional Indonesia
  • RI 48: Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
  • RI 49: Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)
  • RI 52: Wakil Ketua DPR
  • RI 59: Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan

Catatan: Nomor kendaraan Pejabat Negara / Menteri sering berganti, hal ini disesuaikan dengan jumlah anggota Kabinet. Misalnya pada Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014) Jabatan Sekretaris Kabinet bukan setingkat menteri, sehingga Nomor Kendaraan untuk beberapa menteri berubah. Sebagai contoh saat ini Kepala BIN menggunakan RI 49.

Mobil operasional staf korps diplomatik memiliki nomor polisi serupa dengan kendaraan pribadi (dasar hitam dengan tulisan putih) namun dengan format khusus yakni memiliki lima angka dan kode angka negara dicetak lebih kecil dengan format sub-bagian.

Contoh: “B 12345 15” berarti mobil ini adalah kendaraan operasional staff korps diplomatik Vatikan.

Pada KTT Asia-Afrika 2005, kendaraan para pesertanya dipasang plat nomor dengan kode KAA.

Teori Padi Jelaskan Perbedaan Timur dan Barat

Posted in Jendela Dunia, sosial, Teknologi dan Internet on 12 Mei 2014 by Jaran Prabu

Kenapa penduduk di negara barat lebih individualis ketimbang masyarakat timur? Ilmuwan mencoba menjelaskan perbedaan budaya yang fundamental semacam itu dengan berbekal biji-bijian, yakni padi dan gandum.

Family Farming China

Bagaimana pola bercocok tanam dan makanan bisa mendorong divergensi budaya? Sekelompok ilmuwan meyakini hubungan antara keduanya.

Menanam benih padi dan mengairinya adalah urusan pelik yang harus dilakukan secara kolektif. Sebaliknya budidaya gandum, jika cuaca murah hati, tidak terlampau rumit. Begitulah teorinya. Ilmuwan meyakini, perbedaan metode bercocoktanam antara padi dan gandum memperuncing perbedaan antara penduduk di barat dan timur.

“Teori padi” ini dipublikasikan oleh ilmuwan dari Cina dan Amerika Serikat di jurnal ilmiah Science. Menurutnya, penduduk yang secara tradisional menanam padi secara perlahan akan semakin kolektif, lantaran kebutuhan untuk bekerjasama yang besar agar bisa memproduksi beras.

Petani Gandum Lebih Individualis

Sebaliknya penduduk yang menanam gandum lebih berpikir independen dan analitikal. Ini dikarenakan gandum cuma membutuhkan setengah tenaga kerja dan tidak terlalu bergantung pada kerjasama untuk memproduksinya seperti misalnya padi, tulis ilmuwan.

“Teori padi ini bisa menjelaskan perbedaan antara barat dan timur,” bunyi tulisan milik tim yang dipimpin oleh Thomas Talhelm, mahasiswa program doktor untuk Psikologi Budaya di University of Virginia.

Untuk mempermudah pengujian, ilmuwan memusatkan penelitian pada sekelompok masyarakat yang hidup di bantaran sungai Yangtse, Cina. Sungai ini membelah dua penduduk, antara masyarakat petani padi di selatan dan gandum di utara. Kedua kelompok masyarakat dinilai berbeda dalam tingkah laku dan adat istiadat.

Warisan Budaya Petani

Sekitar 1162 penduduk etnis mayoritas Han dari enam kota diikutsertakan dalam jajak pendapat. Pertanyaannya berkisar pada individualisme, kemampuan analisa dan kesadaran kolektif. Hasilnya dinilai memastikan hubungan antara kolektivisme atau individualisme dengan tradisi menanam padi atau gandum.

“Masyarakat padi di selatan Cina lebih bergantung satu sama lain dan cenderung berpikir kolektif ketimbang penduduk Cina utara yang menanam gandum,” tulis ilmuwan yang berasal dari universitas-universitas di Virginia, Michigan, Beijing dan Guangzhou.

Uniknya, sebagian besar responden adalah mahasiswa yang tidak lagi berhubungan dengan aktivitas pertanian. Kendati begitu peneliti yakin, budaya diteruskan “selama berabad-abad secara turun menurun,” kata Thomas Talhelm. “Anda tidak perlu menanam padi untuk mewariskan budaya petani,” imbuhnya.

rzn/vlz (afp,ap)

 

Sumber: dw.de

Kriminalitas Meningkat, Venezuela Mengeluarkan Larangan Bersepeda Motor

Posted in Jendela Dunia, Kebijakan Publik, Kriminal on 2 Februari 2014 by Jaran Prabu

Pengguna sepeda motor di Venezuela sangat meradang ketika pemerintah setempat mengajukan usulan untuk melarang kendaraan roda dua melintas di atas jam 7 malam di semua ruas jalan! Alhasil, lebih dari 2.000 pengguna sepeda motor berunjuk rasa memprotes aturan itu, Jumat (31/1/2014), di jantung kota Caracas.

Rupanya, rezim Presiden Nicolas Maduro sedang tertekan untuk memberikan keamanan pada warganya. Kriminalitas meningkat 4 kali lipat sejak negara di Amerika Selatan itu dimpimpin mendiang Hugo Chavez. Tahun lalu saja, pembunuhan bisa terjadi sampai 24.000 kasus, puncaknya menewaskan mantan Miss Venezuela Monica Spear sekaligus mantan suaminya, 9 Januari 2014 lalu.

Ironisnya, rata-rata para pembunuh melarikan diri menggunakan sepeda motor, dan waktu kejadian sebagian besar malam hari. Tak hanya pembunuhan, perampokan dan tindak kejahatan lain juga banyak dilakukan berkat bantuan kendaraan roda dua.

”Kejahatan bisa dilakukan kapan saja menggunakan apa saja. Jalan kaki, sepeda motor, atau bahkan naik Hummer. Tidak perlu menghukum semua orang atas tindakan beberapa kambing hitam. Ini tidak adil,” tegas Ivan Contreras, salah satu pengunjuk rasa bebicara kepada Associated Press.

Kendaraan Utama
Memang, sepeda motor menjadi moda transportasi andalan di negara itu, terutama untuk kaum miskin. Apalagi, transportasi publik juga masih belum memadai. Para pekerja malam jelas akan terpukul dengan larangan itu.

Mungkin pemerintah setempat ”terinspirasi” dari aturan yang pernah diberlakukan di Kolombia, saat memerangi peredaran kokain pada 1980-an. Atau Honduras, negara dengan tingkat kriminalitas sangat tinggi, bahkan jauh melebihi Venezuela.

Sumber: Caracas, KompasOtomotif

Menekan Kejahatan, Di Manila, Motor Tidak Boleh Boncengan

Posted in Jendela Dunia, Kebijakan Publik, Kriminal on 1 Februari 2014 by Jaran Prabu
Pengendara menggelar aksi protes 26 Januari (REUTERS)

Hati-hati bagi Anda yang suka naik motor dan membawa penumpang di kota Manila, Filipina. Sebab pemerintah kota Manila berencana melarang berboncengan bagi pengendara motor demi menekan kejahatan.

Walikota Manila yang juga mantan presiden Filipina Joseph Estrada yang menelurkan aturan itu pekan lalu.

Selama ini, angka kejahatan menggunakan motor di beberapa kota di Filipina meningkat. Oleh karena itu undang-undang lalu lintas hanya memperbolehkan seorang di atas motor.

Namun peraturan pemerintah setempat menuai protes para pemotor di sana. Aturan tersebut terdengar konyol mengingat kendaraan roda dua sebagai kendaraan operasional yang murah.

Sementara itu, warga berkeberatan jika harus membeli 2 atau 3 motor dalam satu keluarga. Selama ini warga mengandalkan motor untuk beraktivitas.

Mayoritas pengendara motor menyuarakan penolakan tersebut di People Power Monument di Kota Quezon, Manila pada tanggal 26 Januari 2014. Mereka menentang dan meminta pemerintah untuk mengkaji ulang peraturan tersebut.

Ratusan pengendara motor memprotes rencana yang diusulkan pemerintah daerah untuk melarang berboncengan dan mengharuskan pemotor memakai rompi dan lengkap pelat nomor polisi.

Anggota parlemen seperti dilansir Inquirer, pun menolak wacana yang dianggap konyol ini. Melarang motor berboncengan dirasa tidak akan mengurangi kejahatan namun justru mengurangi hak rakyat miskin.

Sumber: detikOto
(ikh/ddn)